Sekolah Berkebutuhan Khusus Permata Hati Jakarta, Harapkan Bantuan Pemerintah.

Headline

ZONA PUBLIK COM . JAKARTA – Sekolah anak berkebutuhan khusus (ABK) Permata Hati yang beralamat di bilangan Gatot Subroto Jakarta Selatan, kondisinya saat ini semakin memprihatinkan. Sejak berdiri 20 tahun lalu, yakni sekitar tahun 2000, sekolah dengan jumlah siswa sekitar 60 anak berkebutuhan khusus  ini belum pernah mendapat perhatian (bantuan) dari Pemerintah setempat. Untuk itu demi keberlangsungnan proses sbelajar mengajar pihaka yayasan meminta agar Walikota Jakaarta Selatan atau dinas terkait berkenan memberi bantuan.

“Hampir 20 tahun sekolah ini beerjalan, belum pernah sekalipun mendapat perhatian dari pihak pemerintah. Semua kegiatan sekolah mulai dari pemenuhan kebutuhan belajar mengajar, pengadaan peraga sekolah hingga honor guru dan karyawan kita tanggung sendiri”, demikian diungkapkan Ir. Fitriani Kartawan. Msi ketua sekaligus pemilik Yayasan Permata Hati saat ditemui wartawan.

Menurut Fitriani, selama ini yayasan berjalan secara mandiri. Namun diakui ada beberapa donatur dan pihak ketiga yang selama ini ikut mendanai yayasan demi keberlangsungan proses belajar mengajar anak. Namun jumlah tersebut jauh dari kebutuhan yang diperlukan dalam menjalankan sebuah sekolahan yang sehat, terutama dalam hal fasilitas, kualiatas, serta kesejahteraan tenaga pendididknya. Untuk itu dirirnya berharap Pemerintah Jakarta Selatan atau Dinas terkait berkenan memberi perhatian serta bantuan agar sekolah yang dipimpinnya tetap dapat melakukan proses belajar mengajar dan mendidik anak anak berkebutuhan khusus dengan baik.

Ir. Fitriani Kartawan Msi. Ketua yayasan Permata Hati

Diakui Fitri untuk terus bertahan, dirinya harus banting tulang memutar otak untuk mencari beaya oprasional sekolah agar tetap jalan. Selama ini semua beaya oprasional dan proses belajar mengajar berasal dari iuran bersama semua pengurus, ditambah uang SPP para siswa, serta uluran tangan jika ada dermawan atau donatur yang berkenan membantu.

“Apa yang kita kerjakan selama ini semata-mata ibadah dalam upaya ikut mencerdaskan dan memberi perhatian lebih kepada anak-anak yang berkebutuhan khusus. Namun saya tidak bisa mengelak jika beban ini  semakin berat saya rasakan, mengingat beaya hidup di Jakarta sangat tinggi. Maka dengan kondisi dan keterbatasan ini saya berharap Wali kota Jakarta Selatan, dinas pendidikan serta dinas terkait lainnya, kiranya berkenan memberi bantuan serta perhatian pada sekolah ini, agar proses belajar mengajar di yayasan ini tetap berjalan”, harapnya.

Berdiri sekitar tahun 2000, sekolah berkebutuhan khusus, yayasan  Peremata Hati telah banyak meluluskan siswa/siswi dan kini telah mampu hidup mandiri. Mengontrak sebuah bangungan kosong saat ini jumlah siswanya mencapai 60 anak yang terbagi dalam 5 kelas. Mulai kelas PAUD, TK, hingga SD dengan latar belakang berbeda beda, mulai dari tuna grahita, tuna wicara, tuna rungu, hingga keterbatasan mental dan lainnya.

Bagi para siswa dikenakan bantuan adminitrasi atau sejenis SPP guna menunjang kelancaran proses belajar mengajar mulai Rp 600 ribu/ siswa sebulan hingga Rp 1 juta/siswa, tergantung paket atau mata pelajaran yang diambil.  Sedaang fasilitas yang ada disekolahan cukup memadai,  mulai dari sarana dan prasarana pendidikan. ruang kelas per kelompok, tempat dan sarana bermain anak anak, ruang teraphi, hingga fasilitas lain.

Sementara Jumlah tenaga pendidik yang ada saat ini ada 6 orang guru, dengan latar pendidikan sarjana umum dan sarjana pendidikan serta beberapa pengurus yayasan dan tenaga non guru. Untuk tenaga pengajar mereka hanya menerima gaji sebesar Rp 1,5 juta/bulan tanpa tunjangan lain. Jauh dari besar upah buruh di Jakarta.(Ilv)