ZONAPUBLIK.COM KLATEN – Tak ingin lingkungannya rusak dan tandus akibat galian C, ratusan warga desa Sukorini, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, melakukan aksi demo menolak hadirnya aktivitas penambangan pasir menggunakan alat berat (excavator) atau bego. Berbagai spanduk penolakan dipasang warga disudut sudut kampung serta sepanjang tanggul sungai Woro. Aksi merupakan bentuk protes terhadap exploitasi tambang galian C yang tidak peduli terhadap terjaganya ekosistim.

Aksi demo dan penolakan sendiri berawal dari adanya rencana penambangan galian C dengan menggunakan alat berat di dukuh Pijenan dan dukuh Plalangan. Sontak rencana tersebut langsung ditentang warga. Mereka tak ingin wilayahnya rusak lebih parah lagi dengan datangnya alat berat, mengingat daerah tersebut termasuk wilayah tangkapan air, terutama dimusim hujan.

Suraji salah satu warga Dukuh Brangkali, menjelaskan kehadiran penambang menggunakan alat berat hanya akan merusak lingkungan. Menurut Suraji beberapa tahun silam areal sawah disekitar kampungnya tumbuh subur dan air yang berkecukupan. Namun setelah ada penambangan semua lahan sawah kering dan tandus. Lahan sawah dan tegalan yang dulu subur kini berubah menjadi hamparan tanah kering yang tak bisa ditanami.

“Dulu di sekitar sini sebenarnya areal sawah semua. Para petani dapat panen padi dan Polowijo setahun 2 hingga 3 kali. Tapi setelah ada penambangan galian C, semua menjadi tandus. Air tak mengalir lagi yang ada tinggal kubangan-kubangan besar bekas galian yang tidak direklamasi. Jika nanti lahan ini dikeruk memakai alat berat, apa tidak semakin rusak alam lahan ini”, tegasnya.

Penolakan warga terhadap kehadiran alat berat juga didukung beberapa kelompok tani yang ada seperti kelompok tani Ngudi Makmur Dukuh Gampar Desa Sukorini, kelompok tani kehutanan Ngudi Rahayu dari desa Sukorini, serta warga peduli lingkungan lainnya. Mereka sepakat menolak tegas datangnya alat berat di wilayahnya apapun resikonya.” Pokoknya kami sudah sepakat akan menolak tegas kehadiran bego masuk wilayah kami, apapun alasannya”, tegas

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, ada rencana aktivitas penambangan galian C di wilayah barat Dukuh Pijenan dan Dukuh Plalangan dengan menggunakan alat berat bego. Rencana tersebut muncul setelah ada warga yang menawarkan lahannya kepada pihak ketiga untuk digali dan diambil pasirnya. Penawaran dilakukan pemilik lahan karena ada pemodal yang butuh matrial dalam jumlah besar guna menunjang proyek pembangunan jalan tol Jogja-Solo pada tahun 2020 yang akan melintasi Klaten.

Ketua BPD Sukorini Sudaryanto mengakui jika ada gerakan penolakan penggalian galian C dengan menggunakan alat berat bego oleh masyarakat Sukorini. Namun selaku ketua BPD dirinya mengaku tidak bisa berbuat banyak karena itu merupakan hak warga.

Sementara Kepala Desa Sukorini Siswanto yang berhasil dihubungi membenarkan adanya demo yang dilakukan warganya. Dalam hal ini dirinya mempersilahkan warga menyuarakan aspirasinya sesuai apa yang mereka inginkan. Menurut Siswanto dalam kasus tersebut ada dua kelompok dan dua kepentingan. Untuk itu selaku kepala wilayah dirinya akan mencoba mencari solusi jalan keluar agar ada titik temu yang sama-sama dapat diterima oleh kedua belah pihak.

“ Saya kira wajar jika warga demo menolak bego masuk wilayahnya. Sebagai petani mereka tak mau kehilangan lahan pencahariannya. Untuk itu saya akan mencoba mengajak keduanya untuk duduk bersama, berdialog agar ada titik temu yang sama-sama menguntungkan dan dapat diterima kedua belah pihak (jerro)